Pelangi di Ujung Desa
Rencana Untuk Hari Libur
“Teng…teng… teng.”Bel berbunyi tiga kali,pertanda belajar usai.Anak anak pun berebut keluar kelas.Hari ini Sukma sangat gembira karena di mendapat rangking satu .Semua itu berkat ketekunan Sukma selama ini.Sukma adalah anak yang rajin,baik,dan tekun,sehingga dia punya banyak teman.
Setibanya di rumah “bu –pak,lihatlah raporku,aku dapat rangking satu di kelas.”Sahut Sukma.”Mana hasil belajarmu slama ini,bapak ingin melihatnya.”Pinta Pak Darmawan,ayah Sukma.”Ibu juga mau lihat.”Teriak Ibu Darmawan dari dapur yang sedang masak makan siang.”Ini bu, bagaimana bagus kan nilai Sukma.”Kata Sukma ingin di puji ibunya.”Wah ini baru anak ibu,nilainya bagus semua.”Puji Ibu Darmawan.
Pada malam harinya,ibu,bapak,Ardian{adik Sukma},dan Sukma berkumpul da ruang keluarga.”Sukma,karena kamu sudah membuat bapak dan ibumu bangga,maka sekarang kamu akan liburan semester kemana.”Rencananya aku dan teman-temanku akan berkemah di Bukit Serunai di sebelah desa ini.Apakah bapak dan ibu akan mengizinkanku?”Tanya Sukma.Bukit serunai memang nyaman untuk tempat berkemah ,karena Bukit Serunai merupakan kawasan yang dilindungi kelestariannya.Lalu ibu dan bapak bertatap-tatapan sambil menganggukan kepala, lalu”boleh saja,lagipula itu kan supaya kamu lebih mandiri.Asal kamu jangan lupa beribadah,jangan main saja.”Tanggap bapak sambil menasihati Sukma.”Lalu kapan kamu akan berangkat?”Tanya ibu.”Besok lusa bu,kalau tidak ada halangan.”Jawab Sukma.”Laalu siapa saja yang ikut berkemah?”Ibu bertanya lagi.”Saya,Hasan,Barli,Dasen.Itu kelompok laki-laki.Sementara kelompok perempuan,Marni,Reni,Rahma,dan Wiwit.Kebetulan ketua kelompok laki-laki saya,sementara perempuan Rahma.”Jelas Sukma.
Tantangan Menuju Bukit Serunai
Tibalah saatnya kelompok yang akan berkemah itu berangkat.Mereka pergi berjalan kaki menyusuri jalan setapak sambil menikmati pemandangan alam yang luar biasa indahnya.Tiba –tiba kelompok laki –laki mandengar suara teriakan kelompok perempuan .Sukma dan kawan-kawannya pun segera menoleh ke belakang.”Ada apa dengan kalian?apakah ada masalah.”Tanya Sukma dengan panik.”Wiwit tercebur ke sungai,kakinya lecet”Lapor Rahma.”Kalau begitu ayo kita buka P3K nya,lalu pakaikan perbannya.”Tanggap Hasan.Merekapun membuka kotak P3K dan langsung mengobati lukanya.Untung saja sungainya tidak dalam,selain itu juga tidak deras.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju Bukit Serunai.Karena di dalam hutan ,mereka tidak mendengar suara adzan.Sukma tahu bagaimana caranya mereka tahu kapan waktunya ibadah,tentunya denga cara melihat matahari.Matahari sudah di atas tepat di atas kepala mereka,Sukma pun memberitahu temen-temannya untu melaksanakan shalat.”Ayo kita sholat dulu,keburu waktunya habis.”Kata Sukma.Mereka pun shalat dengan beralaskan batu besar di tepi sungai tempat Wiwit jatuh tadi.Setelah itu mereka membuka makanan untuk makan siang.Mereka membawa masing masing nasi timbel dengan tahu,tempe,dan sambal.Tak lupa juga untuk makanan selama 3 hari di perkemahan.
Setelah titu mereka melanjutkan perjalanan menuju Bukit Serunai.Namun,Dasen tidak sengaja menemukan ular.”Hei teman-teman,ada ular disini.”Dasen memberitahukan semuanya.”Mana Sen,biar ku tangkap.”Kata Barli.Barli memang terampil menjinakan ular,ayahnya kan pawing ular di desa.Sehingga ,bila ada ular,warga desa pun memanggilnya.Barli pun langsung menangkapnya,tetapi dia tidak akan membunuhnya.”Bagaimana pun juga,ular pun juga sama-sama mahkluk Tuhan kan.”Tanggap Barli.
Mereka pun melanjutkan perjalanan.Tak lama kemudian,Sukma mendengar suara teriakan dari belakang.Ternyata Reni terjatuh.”Kenapa dia,apakah di terjatuh.”Tanya Sukma.Dia tergelincir akibat menginjak tanah yang becek dan licin itu.”Jawab Wiwit.”Tapi apakah dia terluka?”Tanya Hasan lagi.”Ya, kakinya lecet,berdarah lagi,tapi tidak parah kok.”Jawab Marni.”Kalau begitu,Di perban saja.”Usul Barli.”Ya,ayo kita perban luka Reni.”Kata Dasen setuju.Mereka lalu membuka paket P3K nya lgi untuk mengambil perban.Sesudahnya,Sukma berkata”Apakah kamu sudah baikan?Tanya Sukma.”Udag kok,lagi pula udah bisa jalan.”Jawab Reni sambil merintih kesakitan dengan memegang lukanya,menahan perih.”Aku saja yang menununmu jalan,sampai di tenda.”Kata Marni.”Kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanan.”Kata Barli.”Ayo.”Jawab serentak.
Berkemah di Bukit Serunai
Sesampainya di Bukit Serunai,mereka lalu mendirikan dua tenda,satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.”Akhirnya jadi juga tendamya.”Seru Wiwit.Mereka lalu mandi di sungai,sungai itu dekat,hanya berjarak dua meter dari tenda.Waktu ashar telah tiba,mereka pun shalat.
Sore hari mereka mengumpulkan api unggun di depan kedua tenda untuk membuat api unggun untuk menghangatkan badan di malam hari.Di waktu itu,Barli dan Dasen mengumpulkan kayu bakar.Sukma dan Hasan memancing ikan.”Bagaimana kayu bakarnya,apakah sudah terkumpul banyak?”Tanya Sukma setibanya di depan tenda dan menghampiri perempuan dengan membawa 8 ikan.”Belum,Barli dan Dasen sedang mengumpulkannya.”Jawab Marni sambil melihat Sukma.
Sedangkan perempuan,mengumpulkan tumbuhan rempah-rempah untuk bumbu ikan bakar.Pada malam hari,mereka duduk di dekat api unggun untuk menghangatkan badan sambil membakar ikan yang tadi didapat.”Enak ya ,malam hari gini duduk di dekat api unggun.”Kata Marni.Setelah itu mereka tertidur di tenda.
Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi untuk sholat subuh.mereka pun sholat subuh pagi-pagi sekali.Setelah itu mereka berolah raga pagi di tengah udara yang segar.”betapa indahnya ala mini.”Kata Reni.”iyah,betapa nikmatnya alam bebas ini,seperti bebas dari masalah dan beban.”Kata Sukma.Kata mereka sambil menarik tangan ke atas.
Sesudah berolahraga,mereka pergi ke sungai untuk mandi.Di sungai mereka mandi sambil bermain air di air terjun.Betapa senangnya mereka,saat itu Barli, Dasen,Hasan dan Sukma bolak –balik nik turun batu untuk terjun bebas dari atas.Sedangkan perempuan asyik berendam sambil menyembur nyemburkan air satu sama lain,seperti sedang main perang-perangan.
“Aduh kau membasahi aku,akan kubalas kau.”Kata Marni.
“Maaf,aku tidak sengaja.Lagi pula itu kan air bukan battu,kalau batu sakitkan,masa begitu saja kesakitan.”Kata Wiwit.
“Huh,dasar kau.”Kata Marni.“Heh perempuan ayo kesini kita main loncat-loncatan.”Sahut Sukma dari atas batu tempat mereka terjun.”Gak mau ah,kan takut .loncat dari atas batu kan tinggi banget,ih ngeri.”Tanggap Marni.”Hah kalian ini penakut.”Kata Barli.Setelah bermain di sungai, mereka kembali ke tenda.Sesampainya di tenda mereka masing-masing pergi berpencar untuk mencari biji-bijian yang terjatuh dari pohon untuk di tanam di lahan yang kosong atau reboisasi.Kan penanaman pohon kembali bisa mengurangi dampak pemanasan global atau global warming.Lalu mereka serentak perke lahan yang kosong yang akan di Tanami pohon oleh mereka.“Apa yang kau tanam?”Tanya Sukma.”Aku menanam lima biji pala yang tadi aku temukan di bawah pohon pala.Semoga saja jika biji pala ini aku kubur,akan tumbuh pohon pala yang baru.”Kata Mirna.”Kalau kau apa?”Tanya Mirna kepada Sukma.”Aku menanam pohon Maja,tadi aku lihat ada biji Maja tergeletak,seperti ada yang mencabutnya.”Jawab Sukma.
Mereka semua sudah berkumpul di lahan yang kosong.”Apakah kalian sudah siap untuk melakukan reboisasi ?”Tanya Sukma kepada teman-temannya.”Siap.”Jawab serentak.”Kalau begitu ayo kita mulai sekarang saja.”Ajak Sukma.Mereka lalu menanam apa yang di dapat untuk ditanam kembali.Sesudah itu,mereka pergi ke tenda untuk melakukan shalat Dzuhur.Dengan air bersih dari sungai yang jernih, mereka berwudhu lalu sholat di dalam tenda.Setelah sholat,mereka istirahat sebentar untuk melepas lelah setelah main di sungai dan melakukan reboisasi.
Sukma lebih memilih duduk-duduk sambil membaca buku di hamparan rumput hijau.Hasan lebih memilih tidur tiduran di atas rumput,tepatnya di sebelah kiri Sukma.Barli dan Dasen lebih memilihmain catur di dalam tenda.Mirna dan Wiwit lebih memilih menggambar pemandangan yang di lihat mereka ,mereka kan pandai menggambar.Sementara Rahma dan Reni bernyanyi nyanyi sambil mnikmati pemandangan yang indah nan menawan.
Tidak terasa,sekarang waktunya sholat ashar.Mereka pergi ke sungai untuk mengambil air wudhu dahulu.Setelah berwudhu,mereka lalu melaksanakan sholat ashar di dalam tenda.Setelah sholat,Sukma dan Hasan memancing ikan.Barli dan Dasen mencari kayu bakar untuk api unggun.Sedangkan Rahma dan Wiwit mencari jagung di lading jagung yang ada di sebrang sungai ,mereka menyebrang sungai dengan meloncat dari batu ke batu .Reni mencari buah-buahan untuk cuci mulut.Sementara Marni menunggu di tenda sambil mencari rempah-rempah yang ada di sekitar lingkungan tenda untuk di jadikan bumbu untuk ikan bakar.
Malam harinya seperti biasa.Membakar ikan dan jagung sambil menghangatkan badan di lingkungan api unggun.”Nikmat rasanya bila setiap hari begini terus.”Kata Hasan sambil menikmati jagung bakarnya”Iya,tapi besok kita akan pulangkan.”Kata Sukma.”Tapi aku masih beta disini.”KataRahma.”Tapi kan keluarga kita menunggu di rumah.”Kata Marni.”Bagaimana pun juga kita harus pulang.Orang tua kita akan kerepotan bila tidak ada yangmembantu di rumah,sedangkan kita main terus.Kasihan kan.”Kata Sukma.”iya yah,kalau tidak ada di rumah,kita tidak bisa membantu orang tua.”Kata Hasan.
Perjalanan Pulang
Besoknya mereka bersiap untuk pulang ke desa.sebenarnya liburan masih panjang akan tetapi mereka tidak ingin orang tuanya repot karena terlalu lama berkemah.Setelah sholat subuh ,mereka membereskan tenda dan barang barang mereka ke dalam tas.Mereka pun berangkat pulang dengan hati senang tapi sedih.Senng karena mereka dapat pengetahuan baru,juga dapat membantu orang tua di rumah supaya tidak repot mengurus rumah.Dan Sedih karena mereka ingin menikmati pemandangan dan kegiatan di alam bebas seperti berenang di sungai,menikmati pemandangan alam sekitar, menikmati bakar ikan dan bakar jagung,melakukan reboisasi ,dan lain-lain.
Dalam perjalanan,mereka menemui petani jagung.”Hai dik,kalian mau kemana?”Tanya petani itu.”Kami mau pulang ke desa Heningsari.”Jawab Sukma mewakili teman-temanya.”Wah,desa itu masih sangat jauh,kalau tidak keberatan kalian singgah dulu saja disini.”Terimakasih pak,sebenarnya kami ingin singgah dulu,tapi waktu kami tidak cukup untuk sampai di rumah sore hari.Jadi kami permisi dulu ya pak.”Kata anak-anak.”Oh kalau begitu,ini ada sedikit bekal untuk kalian.”Lalu petani itu memberikan satu bungkus ubi rebus pada anak-anak.”Terimakasih pak.”Kata anak anak.
“Baik juga ya petani itu.”Kata Hasan.”Petani disini memang baik-baik.Waktu dulu saja ketika ayahku pulang dari sini dia di beri nasi kuning sebungkus.”Kata Sukma.”Dari mana kau tahu kalau petani disini baik-baik?”Tanya Dasen.”Dari ayahku.Soalnya dulu ayahku pernah berkemah disini ketika dia masih kecil bersama teman-teman.Lalu ayahku terjatuh di jalan setapak pinggir sawah itu,lalu dia di tlong oleh petani desa ini.Pulangnya di beri nasi kuning.Dan nasi kuning itu enak loh,ibu-ibu petani disini juga pinter masak.Ayah menceritakanya padaku.”Sekarang waktunya dzuhur,mereka pun segera mengambil air wudhu di pancuran terdekat lalu sholat di hamparan sejadah di atas batu.Setelah itu,mereka membuka ubi rebus yang diberikan petani tadi untuk makan siang.
“Huh ubi rebusnya enak yah.”Kata Marni.”Iya enak sekali,kan ini ubi asli dari alam.Selain itu di rebusnya juga di atas kayu bakar,pastilah enak.”Kata Wiwit.
Mereka pun makan dengan lahapnya.Ubi rebus dengan dimakan di tempat yang sjuk dan mempunyai panorama yang sangat indah,memang sangat nikmat.”Memang nikmat ya bila kita ada di tengah-tengah kenikmatan alam,”kata Rahma.”Makanya kita jangan merusak alam begitu saja,supaya kita bisa dapat terus menikmati keindahan alam yang berharga,”sambung Sukma.”Kalau begitu,reboisasi yng kita lakukan tadi bertujuan untuk melestaikan keindahan alam,”kata Barli.”Bukan hanya itu,tapi reboisasi juga bertujuan untuk mencegah banjir,longsor,dan kebakaran hutan.”Jelas Sukma.
Setelah itu ,mereka langsung beranjak dari tempat duduknya dan melanjutkan perjalanan pulang.Di perjalanan,mereka menemukan pohon berukuran kecil.Tingginya kira kira dua meter dan mempunyai daun yang lebat.Mereka heran,karena mereka tidak pernah melihat pohon itu sebelumnya.”Aha,aku ingat,dulu aku pernah melihat pohon itu di majalah.Tapi aku lupa namanya.”Kata Dasen.”Lalu apa yang kau ingat tentang pohon itu?”Tanya Sukma.”Pohon itu katanya dapat mengobati luka bengkak.”Jawab Dasen.Dengan jawaban Dasen tadi mereka teringat kepada adi Marni yang berumur 7 tahun.Dia bernama Nina.Dia menga lami bengkak pada bagian kelingking kakinya.Saat itu Nina jatuh karena terpeleset,alu kakinya tersandunng batu dan jari kelingkingnya tergencet batu.Dari saat itulah kelingking kaki Nina bengkak.
“Bagaimana cara mengobatinya?”Tanya Marni.”Cukup dengan menumbuk daun hingga berair hijau,lalu airnya di oleskan pada bagian yang bengkak.”Jelas Dasen.Mereka kemudian memetik daun pohon itu sebanyak dua puluh lembar dan memasukannya ke dalam tas Marni.Seteelah selesai,mereka melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian,mereka mendengar suara adzan.Sepertinya ada mesjid di depan.Mereka lalu melihat sebuah desa kecil.Penduduknya tidak banyak akan tetapi sepertinya warganya baik-baik,bukktinya tidak ada yang wajahnya cemberut.Semuanya menyambut kami dengan senyuman ketika mereka datang.Bahkan mereka disuguhi makanan oleh ibu-ibu yang ada di sana.
Setelah itu,mereka berpamitan kepada warga disana.”Perjalanan pulang berbada dengan perjalanan menuju tempat berkemah.”Kata Dasen.Mereka memang mengambil jalan yang berbeda dengan jalan ketika mereka bereangkat.Kan jalan dari desa Sukma ke Area perkemahan Bukit Serunai ada dua jalan .Ketika berangkat,mereka mengambil jalan Rarampang.
Jalan Rarampang yaitu jalan menuju Bukit Serunai melewati hutan lindung.Sedangkan jalan yang mereka lalui ini adalah jalan Porokan.Jalan Porokan adalah jalan menuju Bukit Serunai yang jaraknya lebih dekat.Jalan Porokan berbeda dengan jalan Rarampang.Jika Rarampang mlewati hutan lindung.Maka jalan Porokan lebih sering melewati desa-desa kecil.Karena itulah sekarang mereka seing menemui desa-desa kecil.
Kejutan Pelangi di Ujung Desa
Sampailahmereka di desa mereka.Mereka sangat senang.”Halo,kami sudah pulang.”Tapi tidak ada seorangpun yang menyambut mereka.Mereka sangat sedih.Lalu mereka pergi ke sebuah batu besar di bukit kecil.Dari sana mereka dapat melihat desnya.Mereka duduk terhampar di batu itu.Lal mereka mendengar suara dari balik semak-semak.”Apa itu,jangn-jangan hewan buas.”Kata Barli.Lalu alangkah terkejutnya mereka ketika melihat semua warga di desa mereka menyambutnya di tempat itu.”Kalian,ku kira kalian sudah lupa hari ini kami akan datang.”Kata Sukma terkejut.”Kami tau kalian akan kesini.Jadi kami ingin menyambut kalian dengan masakan ini.”Kata ibu Sukma.Mereka lalu menyantap makanan itu sambil melihat pelangi yang menghiasi langit sampai ke ujung desa.
Tamat!!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar