Manisnya Buah Apel Tak Semanis Hati Nafisa
Hari itu Nafisa sangat senang sekali.Dia sekarang dapat hadiah.Dia menang di lomba menyanyi.Nafisa memang mempunyai suara yang merdu,yang bisa menarik hati para penonton dan dewan juri.
Di saat liburan ,dia berlibur ke malang untuk mengunjungi sepupunya disana.Dia pergi bersama kakaknya yang bernama kak Nabila.Di perjalanan Nafisa selalu memikirkan apel yang ada di kebun pakde,pamannya yang ada di malang.
Setibanya di stasiun malang,mereka di jemput pakde dan anaknya Afran.Mereka pun pergi e rumah pakde menaiki angkot lalu berjalan menyusuri perkebunan apel yang luas.”Wah aku jadi tidak sabar untuk memakan buah apel yang manis ini,”kata Nafisa sambil melihat lihat pohon apel yang sedang berbuah.
“Haduh capek sekali,”kata kak Nabila sambil duduk di atas kursi bambu. Nafisa duduk di teras rumah pakde yang sedrhana akan tetapi rumahnya terlihat indah dan rapih karena ditanami pohon dan bunga.Lalu di depan rumahnya ada kolaam ikan yang luas seperti danau.
“Paman boleh memetik buah apel sekarang,aku ingin makan sekarang”kata Nafisa.”Jangan sekarang.Kaliankan baru sampai,kalian pasti capek,kalau mau ambil saja apel yang sudah dipetik.Tuh ada di keranjang buah di dapur.”Kata pakde.Wah pakde baik sekali.Nafisa lalu pergi kedapur membawa apel yang terkenal manis sekali.”Aku senang sekali bisa menikmati apel malang yang manis dan segar,”puji Nafisa sambil memakan apel di teras rumah pakde yang adem tertiup angin sepoi-sepoi dari perkebunan di atas bukit.
Malamnya,Nafisa dan kak Nabila membereskan bajunya ke dalam lemari di kamar yang kosong.Ketika mereka selesai membereskan baju, mereka diajak Afran untuk jajan ke warung di pinggir jalan.Afran memang sudah biasa jajan di malam hari ketika bulan purnama,katanya bisa sambil melihat bulan sambil bermain dengan teman-temannya.Tapi di jalan seperti ada orang di kebun pakde.Sebenarnya Afran mau menghampiri,tapidia takut.Lagi pula itu bukan siapa siapa.
Esok harinya,kak Nabila,Nafisa ,Afran,dan pakde pergi keperkebunan apel untuk panen apel.Tapi alangkah anehyna.Pohon yang seharusnya berbuah,malah tidak ada buah sama sekali.”Mana buahnya paman ?kok tidak ada?”Tanya Nafisa.”Pakde juga heran,kemarin buahnya ada kok,tapi sekarang entah kemana,”jawab pakde.”Mungkin dicuri”tanggap kak Nabila.Mereka pun pulang dengan sedih.
Setelah tiba di rumah,Afaran mengajak Nafisa untuk membawa sepedanya ke bengkel.Tiba disana mereka duduk di bangku menunggu sepedanya selesai di perbaiki.”Bang tolong kompa ban depannya,”sahut seorang anak dengan sepeda berkeranjang.Keranjng itu dipenuhi dengan buah apel.Afran dan Nafisa heran.”Hei kau dapatkan buah apel sebanyak itu dari mana?”Tanya Afran.”Saya juga tidak tahu,ini apel pemberian kakak saya,kakak saya waktu malam pergi memetik apel,”Jawab anak itu.
“Memangnya kamu punya perkebunan?’tanya Nafisa.”Tidak juga,kakakku memetik disana,”jawab anak itu seraya menunjuk ke kebun milik pakde.”Tuh betulkan dugaanku”kata Afran.
Besoknya Nafisa dan Afran pergi ke rumah anak itu.”Assalamu alaikum , prmisa”kata Afran dan Nafisa.”Waalaikumsalam”sahut seorang anak laki-laki.”Ada keperluan apa kalian kemari?”Tanya anak itu.”Begini,apakah kamu memetik buah apel di perkebunan ayahku kemarin malam?”Tanya Afran.”Tidak”jawab anak itu.”Tapi adikmu ini mengatakan bahwa kamu mengambil buah apel dari perkebunan “jelas Afran.”Ya,memang benar aku mencuri apel,aku minta maaf,ini ku kembalikan apelmu”kata anak itu.”Afran,lebih baik ambil setengahnya saja.Kasian dia,dia ingin apel”kata Nafisa.
Lalu mereka berkenalan dan menjadi teman bermain.Ternyata meskipun anak laki-laki itu sudah mencuri,tapi dia tidak akan mengulanginya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar